Bangsa Indonesia telah menyatakan
kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan dibacakannya teks proklamasi
oleh Ir. Soekarno. Kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia
semata-mata bukan hadiah dari bangsa Jepang yang telah menjajah selama 3,5
tahun, namun hasil perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka.
Namun,
ternyata Sekutu masih ingin kembali menguasai dan menjajah Indonesia. Hal ini
disebabkan karena Indonesia di mata Sekutu terlihat begitu menggiurkan. Sumber daya
alam dan manusianya yang berlimpah merupakan salah satu alasan Sekutu ingin
kembali ke tanah Indonesia.
Salah
satunya ialah Belanda. Kekalahan Jepang di perang dunia II sempat membuat
Indonesia mengalami vacuum of power. Kemudian, setelah kemerdekaan Sekutu
kembali dating dengan diboncengi tentara NICA dan AFNEI.
A.
Kembalinya
Belanda ke Indonesia
Bagi Sekutu, setelah selesai PD
II, maka negara-negara bekas jajahan Jepang merupakan tanggungjawab
Sekutu. Sekutu memiliki tanggungjawab pelucutan senjata tentara Jepang,
memulangkan tentara Jepang, dan melakukan normalisasi kondisi bekas jajahan
Jepang.
Bayangan Belanda
tentang Indonesia jauh dari kenyataan. Faktanya, rakyat Indonesia telah
memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan tidak dalam
kekosongan pemerintahan. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan bayangan
Belanda dan Sekutu. Karena itu, dapat diprediksi kejadian berikutnya, yakni
pertentangan atau konflik antara Indonesia dan Sekutu maupun Belanda.
Sekutu kemudian
masuk ke Indonesia melalui beberapa pintu wilayah Indonesia terutama daerah
yang merupakan pusat pemerintahan pendudukan Jepang seperti Jakarta, Semarang,
dan Surabaya. Setelah PD II, terjadi perundingan Belanda dengan Inggris di
London yang menghasilkan Civil Affairs Agreement.
Isinya tentang pengaturan penyerahan kembali Indonesia dari pihak Inggris
kepada Belanda, khusus yang menyangkut daerah Sumatra, sebagai daerah yang
berada di bawah pengawasan SEAC (South East Asia Command).
Di dalam perundingan itu dijelaskan langkah-langkah yang ditempuh sebagai
berikut:
1.
Fase
pertama, tentara Sekutu akan mengadakan operasi militer untuk memulihkan
keamanan dan ketertiban.
2.
Fase
kedua, setelah keadaan normal, pejabat-pejabat NICA akan mengambil alih
tanggung jawab koloni itu dari pihak Inggris yang mewakili Sekutu.
Setelah diketahui Jepang menyerah
pada tanggal 15 Agustus1945, maka Belanda mendesak Inggris agar segera mensahkan
hasil perundingan tersebut. Pada tanggal 24 Agustus 1945, hasil perundingan
tersebut disahkan.
Berdasarkan persetujuan Potsdam,
isi Civil Affairs Agreement diperluas. Inggris
bertanggung jawab untuk seluruh Indonesia termasuk daerah yang berada di bawah
pengawasan SWPAC (South West Pasific Areas Command).
Untuk melaksanakan isi Perjanjian
Potsdam, maka pihak SWPAC di bawah Lord Louis Mountbatten di Singapura segera
mengatur pendaratan tentara Sekutu di Indonesia. Kemudian pada tanggal 16
September 1945, wakil Mountbatten, yakni Laksamana Muda WR Patterson dengan
menumpang Kapal Cumberland, mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Dalam rombongan Patterson ikut
serta Van Der Plass seorang Belanda yang mewakili H.J. Van Mook (Pemimpin
NICA). Setelah informasi dan persiapan dipandang cukup, maka Louis Mountbatten
membentuk pasukan komando khusus yang disebut AFNEI (Allied
Forces Netherlands East Indiers) di bawah pimpinan Letnan
Jenderal Sir Philip Christison. Mereka tergabung di dalam pasukan tentara
Inggris yang berkebangsaan India, yang sering disebut sebagai tentara
Gurkha.
Tugas tentara AFNEI sebagai
berikut:
§ Menerima penyerahan kekuasaan tentara Jepang tanpa
syarat.
§ Membebaskan para tawanan perang dan interniran
Sekutu.
§ Melucuti dan mengumpulkan orang-orang Jepang untuk
dipulangkan ke negerinya.
§ Menegakkan dan mempertahankan keadaan damai,
menciptakan ketertiban, dan keamanan, untuk kemudian diserahkan kepada
pemerintahan sipil.
§ Mengumpulkan keterangan tentang penjahat perang
untuk kemudian diadili sesuai hukum yang berlaku.
Pasukan Sekutu yang tergabung
dalam AFNEI mendarat di Jakarta pada tanggal 29 September 1945. Kekuatan
pasukan AFNEI dibagi menjadi tiga divisi, yaitu sebagai berikut:
§ Divisi India 23 di bawah pimpinan Jenderal DC
Hawthorn. Daerah tugasnya di Jawa bagian barat dan berpusat di Jakarta.
§ Divisi India 5 di bawah komando Jenderal EC
Mansergh bertugas di Jawa bagian timur dan berpusat di Surabaya.
§ Divisi India 26 di bawah komando Jenderal HM
Chambers, bertugas di Sumatra, pusatnya ada di Medan.
Kedatangan tentara Sekutu
diboncengi NICA yang akan menegakkan kembali kekuatannya di Indonesia. Hal ini
menimbulkan kecurigaan terhadap Sekutu dan bersikap anti Belanda. Sementara
Christison sebagai pemimpin AFNEI menyadari bahwa, untuk menjalankan tugasnya
tidak mungkin tanpa bantuan pemerintah RI.
Oleh karena itu, Christison
bersedia berunding dengan pernerintah RI. Kemudian, Christison pada tanggal 1
Oktober 1945 mengeluarkan pernyataan pengakuan secara de facto tentang negara Indonesia. Namun, dalam
kenyataannya pernyataan tersebut banyak dilanggarnya.
B.
Perjuangan
dengan Kekuatan Senjata
1.
Pertempuran
Medan Area
Pertempuran yang terjadi di Medan ini terjadi
pada tanggal 9 Oktober 1945. Pertempuran ini dilatar belakangi oleh pasukan
Belanda yang diboncengi oleh Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D.
Kelly mendarat di Sumatera Utara. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk
mengambil alih pemerintahan dan membebaskan para tawanan.
Atas dasar pembebasan para tawanan, Gubernur
Teuku Hasan membiarkan mereka menginap di hotel. Akan tetapi, pasukan Sekutu
yang tinggal di dalam hotel tersebut bersikap congkak. Salah seoarang dari
mereka merampas dan menginjak-injak lencana merah putih. Karena kejadian ini,
seluruh pemuda marah dan mengepung hotel. Akibat insiden tersebut, puluhan
orang terluka. Insiden penyerangan tersebut ternyata menjalar hingga ke
beberapa tempat di seluruh Medan. Pada tanggal 10 Oktober 1945, Achmad Tahir,
seorang bekas perwira tentara Sukarela memelopori terbentuknya TKR Sumatra
Timur. Pada tanggal yang sama terbentuk pula badan-badan perjuangan dan
laskar-laskar partai.
Pada tanggal 18 Oktober 1945, Brigadir Jenderal
T.E.D. Kelly mengeluarkan ultimatum kepada seluruh pemuda untuk menyerahkan
senjatanya. Selain itu, para pasukan Sekutu dan NICA juga mulai melakukan
aksi-aksi terror. Pada tanggal 1 Desember 1945, mereka memasang papan-papan
yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut kota Medan. Akibat,
tidak diindahkannya ultimatum tersebut,Pasukan Sekutu menggempur Medan secara
besar-besaran pada tanggal 10 Desember 1945. Mereka mengerahkan seluruh pesawat-pesawat
tempur untuk menguasai Medan.
2.
Pertempuran
Ambarawa
Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 20
November sampai 15 Desember 1945 antara pasukan TKR melawan pasukan Sekutu.
Insiden bersenjata mulai timbul di Magelang dan meluas menjadi pertempuran
ketika tentara Sekutu dan NICA membebaskan secara sepihak para interniran
Belanda di Magelang dan Ambarawa. Insiden ini berakhir pada tanggal 2 November
1945 setelah dilakukan perundingan antara Presiden Soekarno dan Brigadir
Jenderal Bethel di Magelang.
Sementara itu, secara diam-diam pasukan Sekutu
meninggalkan Magelang dan mundur ke kota Ambarawa yaitu pada tanggal 21
November 1945. Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini
segera mengadakan pengejaran. Pada saat pengunduran itu, pasukan Sekutu mencoba
menunduki dua desa di sekitar Ambarawa. Dalam pertempuran untuk membebaskan dua
desa tersebut, pada tanggal 26 November 1945 gugurlah Letnan Kolonel Isdiman,
Komandan Resimen Banyumas. Dengan gugurnya Letnan Kolonel Isdiman maka Kolonel
Soedirman, Panglima Divisi Banyumas mengambil alih pimpinan pasukan.
3.
Pertempuran
Surabaya
Pertempuran ini
dilatarbelakangi oleh terbunuhnya Jenderal Mallaby pada konflik yang tejadi
antara pejuang dan Pasukan Sekutu. Pihak Inggris pun meminta pertanggungjawaban
kepada rakyat Surabaya dan mengeluarkan ultimatum yang isinya meminta seluruh
rakyat Surabaya dan para pemimpin-pemimpinnya untuk menyerahkan diri. Jika
ultimatum tersebut tidak diindahkan, Inggris akan menggempur Surabaya dengan
mengerahkan seluruh kekuatan darat, laut dan udara. Bukannya
menyerah, rakyat Surabaya merasa terhina akan ultimatum tersebut. Oleh karena
itu, rakyat Surabaya menolak dan secara resmi Gubernur Suryo mengeluarkan
pernyataan menolak ultimatum. Akibat penolakan tersebut, meletuslah pertempuran
pada tanggal 10 Nopember 1945.
Surabaya
digempur habis-habisan oleh pasukan Inggris. Kontak senjata pertama kali
terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak hingga pukul 18.00. Pasukan Sekutu yang
dipimpinan oleh Jenderal Mansergh mengerahkan satu Divisi infantri sebanyak
10.000 – 15.000 pasukan dan dibantu oleh kapal perang penjelajah “Sussex” serta
pesawat tempur “Mosquito” dan “Thunderbolt. Di tengah-tengah pertempuran ini,
seorang pemuda yang bernama Bung Tomo membakar semangat seluruh pejuang
arek-arek Suroboyo dengan berpidato melalui siaran radio. Dengan lantang Bung
Tomo mengucapkan merdeka atau mati. Dalam pertempuran ini, seluruh unsur
kekuatan rakyat, baik dari TKR, PRI, BPRI, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa,
BBI, maupun PTKR bahu membahu menyerang pasukan Sekutu.
Pertempuran Surabaya berlangsung hingga akhir
November 1945. Meskipun banyak korban jiwa yang berjatuhan, rakyat Surabaya
berhasil mempertahankan kotanya dari gempuran Pasukan Inggris. Oleh karena itu,
setiap tanggal 10 November diperingati Hari Pahlawan Nasional dan Surabaya disebut
dengan kota pahlawan atas penghargaan jasa para pahlawan di Surabaya dalam
mempertahankan tanah air Indonesia.
4. Peristiwa
Merah Putih di Manado
Dalam Peristiwa
Merah Putih di Manado, para pemuda yang tergabung dalam pasukan KNIL kompi VII di
bawah pimpinan Ch. Ch. Taulu bersama dengan rakyat melakukan perebutan
kekuasaan di Manado, Tomohon, dan Minahasa pada tanggal 14 Februari 1946.
Sekitar 600 orang pasukan dan pejabat Belanda berhasil ditawan. Pada tanggal 16
Februari 1946, dike-luarkan selebaran yang menyatakan bahwa kekuasaan di selumh
Manado telah berada di tangan bangsa Indonesia.
Untuk memperkuat kedudukan
Republik Indonesia, para pemimpin dan pemuda menyusun pasukan keamanan dengan
nama Pasukan Pemuda Indonesia yang dipimpin oleh Mayor Wuisan. Bendera Merah
Putih dikibarkan di seluruh pelosok Minahasa hampir selama satu bulan, yaitu
sejak tanggal 14 Februari 1946. Di pihak lain, Dr. Sam Ratulangi diangkat
sebagai Gubemur Sulawesi dan mempunyai tugas untuk memperjuangkan keamanan dan
kedaulatan rakyat Sulawesi. Ia
memerintahkan pembentukan Badan Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat. Dr. Sam
Ratulangi membuat petisi yang ditandatangani oleh 540 pemuka masyarakat
Sulawesi. Dalam petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat
dipisahkan dari Republik Indonesia. Dengan adanya petisi tersebut, pada tahun
1946 Sam Ratulangi ditangkap dan dibuang ke Serui (Irian Barat). Peristiwa ini
hingga saat ini dikenang dalam sejarang bangsa Indonesia peristiwa merah putih di Manado.
5. Peristiwa
Bandung Lautan Api
Pertempuran yang terjadi pada tanggal 17
Oktober 1945 merupakan salah satu peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa
Indonesia. Pertempuran ini disebabkan karena pasukan Sekutu mendarat di
Bandung. Pada saat itu para pemuda dan pejuang sedang gencar-gencarnya melucuti
senjata perang dari tangan Jepang. Namun, Sekutu meminta senjata dari hasil
pelucutan tersebut untuk diserahkan kepada mereka. Bahkan sekutu mengeluarkan
Ultimataum kepada pejuang Indonesia bahwa pada tanggal 21 November 1945. Mereka
meminta agar Pihak Indonesia mengosongkan kota Bandung bagian utara paling
lambat hingga tanggal 29 November 1945 dengan dalih keamanan.
Namun, para pejuang tidak mengindahkan
ultimatum tersebut. Sejak saat itu, sering terjadi insiden anatar pasukan
Sekutu dan Indonesia. Karena konflik yang terus berlangsung ini, beberapa tokoh
melakukan perundingan dan sepakat untuk mengosongkan kota Bandung demi
keamanan.
Pada
tanggal 23 Maret 1946, Pemerintah Republik Indonesia memberikan intruksi kepada
TRI untuk meninggalkan kota Bandung. Dengan berat hati, seluruh pejuang dan
masyarakat meninggalkan Bandung Utara. Namun, Sebelum pergi meninggalkan kota
Bandung, mereka terlebih dahulu menyerang pasukan Sekutu sambil
membumihanguskan kota Bandung bagian Selatan. Peristiwa ini kemudian dikenal
dengan Bandung Lautan Api.
6. Pertempuran
Margarana
Pertempuran Margarana dipicu
pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946, ketika itu lebih kurang 2.000 orang tentara
Belanda mendarat di Pulau Bali. Mereka diikuti oleh tokoh-tokoh Bali yang pro
terhadap Belanda. Ketika Belanda mendarat di Pulau Bali, pimpinan Laskar Bali
Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, sedang menghadap ke Markas Tertinggi TKR di
Yogyakarta. Kedatangannya ke Yogyakarta bertujuan membicarakan masalah
pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara untuk menghadapi Belanda. Ketika
kembali dari Yogyakarta, I Gusti Ngurah Rai menemukan pasukannya dalam keadaan porak-poranda
akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan Belanda. I Gusti Ngurah Rai
berusaha untuk mengumpulkan kembali pasukannya yang telah porak-poranda.
Sementara itu, Belanda terus membujuk Ngurah Rai agar mau bekerja sama dengan
pihak Belanda. Namun ajakan itu ditolaknya, penolakan itu terlihat dari isi
surat balasannya kepada Belanda. Di antaranya Ngurah Rai menyatakan bahwa:
"Bali bukan tempat untuk perundingan dan perundingan merupakan hak dari
pemimpin kami di pusat".
Di samping itu, Ngurah Rai,
juga menyatakan bahwa: "Pulau Bali bergolak karena kedata pasukan Belanda.
Dengan demikian, apabila ingin Pulau Bali dan damai, Belanda harus angkat kaki
dari Pulau Bali". Ketika
Ngurah Rai berhasil menghimpun dan mempersatukan ker pasukannya, pada tanggal l
8 November 1946 diIakukan serangan terhadap markas Belanda yang ada di kota
Tabanan. Markas Belanda digempur habis-habisan. Dalam pertempuran itu, pasukan
Ngurah Rai meraih kemenangan yang gemilang dan satu Detasemen Polisi Belanda
lengkap dengan senjatanya menyerah. Setelah itu pasukan mundur ke arau utara
kota Tabanan dan memusatkan perjuangan di desa Margarana..
Akibat kekalahan tersebut
pihak Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk pesawat tempur untuk
menyerang daerah Margarana pada tanggal 20 November 1946. Terjadilah
pertempuran yang dahsyat, dalam pertempuran tersebut Ngurah Rai menyerukan perang puputan (perang habis-habisan). Namun sayang pada peristiwa
tersebut I Gusti Ngurah Rai dan pasukan gugur di medan perang. Pertempuan itu
sekarang lebih dikenal dengan perang puputan yang diperingati tanggal 20
November setiap tahunnya diperingati sebagai hari Pahlawan Margarana oleh
rakyat Bali.
C. Perjuangan dengan Diplomasi
1. Perundingan Linggarjati
Perundingan Linggarjati di laksanakan
mulai sejak tanggal 10 November 1946 di Linggarjati, Cirebon, Jawa Barat.
Perundingan tersebut terjadi anatara pihak Pemerintah RI (Delegasi RI diwakili
oleh perdana menteri Syarir, dengan anggota-anggotanya Mr. Moh. Roem, Mr. Amir
Sjarifuddin, Mr. Soesanto Tirtoprodjo.) dengan pemerintah Belanda ( Delegesi
Belanda dipimpin oleh Prof. Van Poll, F. de Bear dan H.J. Van Mook.) serta
pihak sebagai penengah adalah Lord Killearn, komisaris istimewa Inggris untuk
Asia Tenggara.
Hasil Perundingan Linggarjati
ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 di Istana Rijswijk (sekarang Istana
Merdeka) Jakarta, yang isinya adalah sebagai berikut :
11) Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia
dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, Madura. Belanda harus
sudah meninggalkan daerah de
facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
2) Republik Indonesia dan Belanda
akan bekerjasama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik
Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia.
3) Republik Indonesia Serikat
dengan Belanda akan membentuk Uni
4) Indonesia-Belanda
dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Meskipun isi perundingan Linggarjati
masih terdapat perbedaan penafsiran antara Indonesia dengan Belanda, akan
tetapi kedudukan Indonesia di mata Internasional kuat karena Inggris dan
Amerika memberikan pengakuan de
facto.
2. Perundingan Renville
Sejarah Perjanjian
Renville ini terjadi di atas kapal
Amerika yang berlabuh di Teluk Jakarta. Tempat ini dipilih oleh Indonesia dan
Belanda karena dianggap sebagai tempat yang netral. Delegasi yang dikirim
Indonesia untuk perjanjian ini adalah, Mr. Amir Sjarifuddin, Ai Sastroamidjojo,
dr Tjoa Siek len, Sutan Sjahrir, H.A. Salim, Mr. Nasrun, dan dua anggota
cadangan yaitu Ir. Djuanda dan Setiadjit yang disertakan dengan 32
penasihat.
Sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh R. Abdul
Kadir Widjojoatmojo, Mr. H.A.L. van Vredenburgh, Dr. P.J. Koets, Mr. Dr. Ch. R.
Soumokil, Tengku Zulkarnaen, Mr. Adjie Pangeran Kartanegara, Mr. Masjarie, Thio
Tjiong, Mr. A.H. Ophuyzen, dan A. Th. Baud.
Setelah selesai perdebatan dari tanggal 8 Desember
1947 sampai dengan 17 Januari 1948 maka diperoleh hasil persetujuan damai yang
disebut Perjanjian Renville. Pokok-pokok isi perjanjian Renville, antara lain
sebagai berikut :
1.
Belanda
tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia samapi kedaulatan Indonesia
diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat yang segera terbentuk.
2.
Republik
Indonesia Serikat mempunyai kedudukan yang sejajar dengan negara Belanda dalam
uni Indonesia-Belanda.
3.
Republik
Indonesia akan menjadi negara bagian dari RIS
4.
Sebelum
RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan sebagain kekuasaannya kepada
pemerintahan federal sementara.
5.
Pasukan
republic Indonesia yang berda di derah kantong haruns ditarik ke daerah
Republik Indonesia. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis
Van Mook, yakni garis yang menghubungkan dua derah terdepan yang diduduki
Belanda.
Perjanjian Renville ditandatangani kedua belah
pihak pada tanggal 17 Januari 1948. Adapun kerugian yang diderita Indonesia
dengan penandatanganan perjanjian Renville adalah sebagai berikut :
·
Indonesia
terpaksa menyetujui dibentuknya negara Indonesia Serikat melalaui masa
peralihan.
·
Indonesia
kehilangan sebagaian daerah kekuasaannya karena grais Van Mook terpaksa harus
diakui sebagai daerah kekuasaan Belanda.
·
Pihak
republik Indonesia harus menarik seluruh pasukanya yang berada di daerah
kekuasaan Belanda dan kantong-kantong gerilya masuk ke daerah republik
Indonesia.
Penandatanganan naskah perjanjian Renville
menimbulkan akibat buruk bagi pemerinthan republik Indonesia, antra lain
sebagai berikut:
·
Wilayah
Republik Indonesia menjadi makin sempit dan dikurung oleh daerah-daerah
kekuasaan belanda.
·
Timbulnya
reaksi kekerasan dikalangan para pemimpin republik Indonesia yang mengakibatkan
jatuhnya cabinet Amir Syarifuddin karena dianggap menjual negara kepada
Belanda.
·
Perekonomian
Indonesia diblokade secara ketata oleh Belanda
·
Indonesia
terpaksa harus menarik mundur kesatuan-kesatuan militernya dari daerah-daerah
gerilya untuk kemudian hijrah ke wilayah Republik Indonesia yang berdekatan.
·
Dalam
usaha memecah belah Negara kesatuan republik Indonesia, Belanda membentuk
negara-negara boneka, seperti; negara Borneo Barat, Negara Madura, Negara
Sumatera Timur, dan Negara Jawa Timur. Negara boneka tersebut tergabung dalam
BFO (Bijeenkomstvoor Federal Overslag).
3.
Perundingan
Roem-Royen
Pada tanggal April 4 April 1949 dilaksanakan
perundingan di Jakarta di bawah pimpinan Merle Cochran, anggota komisi dari
Amerika serikat. Delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mr. Mohammad
Roem.
Dalam perundingan Roem Royen, pihak Republik
Indonesia tetap berpendirian bahwa pengembalian pemerintahan Republik Indonesia
ke Yogyakarta merupakan kunci pembuka untuk perundingan selanjutnya.
Sebaliknya, pihak Belanda menuntut penghentian perang gerilya oleh Republik
Indonesia.
Akhirnya, pada tanggal 7 Mei 1949 berhasil dicapai
persetujuan antara pihak Belanda dengan pihak Indonesia. Kemudian disepakati
kesanggupan kedua belah pihak untuk melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan PBB
tertanggal 28 Januari 1949 dan persetujuan pada tanggal 23 Maret 1949.
Pernyataan pemerintah Republik Indonesia dibacakan oleh Ketua Delegasi
Indonesia Mr. Mohammad Roem yang berisi antara lain sebagai berikut.
- Pemerintah
Republik Indonesia akan mengeluarkan perintah penghentian perang gerilya.
- Kedua
belah pihak bekerja sama dalam hai mengembalikan perdamaian dan menjaga
keamanan serta ketertiban.
- Belanda
turut serta dalam Konferensi
Meja Bundar (KMB) yang bertujuan mempercepat penyerahan
kedaulatan lengkap dan tidak bersyarat kepada negara Republik Indonesia
Serikat.
Pernyataan Delegasi Belanda dibacakan oleh Dr. J.H.
van Royen, yang berisi antara lain sebagai berikut.
- Pemerintah
Belanda menyetujui bahwa pemerintah Republik Indonesia harus bebas dan
leluasa melakukan kewajiban dalam satu daerah yang meliputi Karesidenan
Yogyakarta.
- Pemerintah
Belanda membebaskan secara tidak bersyarat para pemimpin Republik
Indonesia dan tahanan politik yang ditawan sejak tanggal 19 Desember 1948.
- Pemerintah
Belanda menyetujui bahwa Republik Indo-nesia akan menjadi bagian dari
Republik Indonesia Serikat (RIS).
- Konferensi
Meja Bundar (KMB) akan diadakan secepatnya di Den Haag sesudah pemerintah
Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta.
D.
Agresi Militer
Belanda
1.
Agresi Militer
Belanda I
Agresi Militer Belanda yang
pertama ini direncanakan oleh Van Mook, dia merencanakan negara-negara boneka
dan ingin mengembalikan kekuasaan Belanda atas Indonesia. Untuk mencapai tujuan
tersebut pihak Belanda melanggar perundingan
linggarjati yang telah disepakati sebelumnya, bahkan mereka
menyobek kertas perjanjian tersebut. Kemudian pada tanggal 21 Juli 1947,
Belanda melancarkan aksi militer pertama dengan target utama kota-kota besar di
pulau Jawa dan Sumatra.
Pasukan TNI yang tidak pernah
menyangka akan terjadinya agresi militer Belanda itu, tidak siap
untuk menghadang serangan yang datangnya secara tiba-tiba. Serangan tersebut
mengakibatkan pasukan TNI tercerai-berai. Dalam keadaan seperti itu, pasukan
TNI berusaha untuk menjalin koordinasi antar satuan dan membangun daerah
pertahanan baru. Pasukan TNI melancarkan taktik gerilya untuk menghadapi
pasukan Belanda. Dengan taktik gerilya, ruang gerak pasukan Belanda berhasil
dibatasi. Gerakan pasukan Belanda hanya berada pada kota-kota besar dan
jalan-jalan raya, sedangkan di luar kota, kekuasaan berada di tangan pasukan
TNI.
Agresi Militer Belanda I ternyata menimbulkan reaksi yang
hebat dari dunia internasional. Pada tanggal 30 Juli 1947, pemerintah India dan
Australia mengajukan permintaan resmi agar masalah Indonesia segera dimasukkan
dalam daftar acara Dewan Keamanan PBB. Pada tanggal 1 Agustus 1947, Dewan
Keamanan PBB memerintahkan penghentian dari kedua belah pihak yang mulai
berlaku tanggal 4 Agustus 1947. Untuk mengawasi pelaksanaan perjanjian gencatan
senjata tersebut, maka dibentuk suatu Komisi Konsuler yang anggotanya adalah
konsul jenderal yang berada di Indonesia.
Pasca
Agresi Militer Belanda yang pertama ini Komisi Konsuler diketuai oleh Konsul
Jenderal Amerika Serikat Dr. Walter Foote dengan anggotanya Konsul Jenderal
Cina, Belgia, Prancis, Inggris, dan Australia. Komisi Konsuler itu diperkuat
dengan perwira militer Amerika Serikat dan Prancis, yaitu sebagai peninjau
militer. Dalam laporannya kepada Dewan Keamanan, Komisi Konsuler menyatakan
bahwa tanggal 30 Juli 1947 sampai dengan tanggal 4 Agustus 1947 pasukan Belanda
masih mengadakan gerakan militer. Namun demikian, pemerintah dari pihak Belanda
menolak dengan keras garis demarkasi yang dituntut oleh pemerintah Indonesia.
Meskipun Agresi Militer Belanda 1 telah
berakhir, genjatan senjata telah dimusyawarahkan, namun di lapangan masih
sering terjadi tembak-menembak. Hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi
terhadap pasukan yang berada di lapangan.
2.
Agresi
Militer Belanda II
Agresi
Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi
pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu
kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir
dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan
dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh
Sjafruddin Prawiranegara.
Pada hari
pertama Agresi Militer Belanda II,
mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke
Ibukota RI di Yogyakarta. Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu
diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat
dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat
diadakan.
Tanggal
18 Desember 1948 pukul 23.30, siaran radio antara dari Jakarta menyebutkan,
bahwa besok paginya Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Dr. Beel, akan mengucapkan
pidato yang penting. Sementara itu Jenderal Spoor yang telah
berbulan-bulan mempersiapkan rencana pemusnahan TNI memberikan instruksi kepada
seluruh tentara Belanda di Jawa dan Sumatera untuk memulai penyerangan terhadap
kubu Republik. Operasi tersebut dinamakan "Operasi Kraai".
Pukul
2.00 pagi 1e para-compgnie (pasukan para I) KST di Andir memperoleh parasut
mereka dan memulai memuat keenambelas pesawat transportasi, dan pukul 3.30
dilakukan briefing terakhir. Pukul 3.45 Mayor Jenderal Engles tiba di bandar
udara Andir, diikuti oleh Jenderal Spoor 15 menit kemudian. Dia melakukan
inspeksi dan mengucapkan pidato singkat. Pukul 4.20 pasukan elit KST di bawah
pimpinan Kapten Eekhout naik ke pesawat dan pukul 4.30 pesawat Dakota pertama
tinggal landas. Rute penerbangan ke arah timur menuju Maguwo diambil melalui
Lautan Hindia. Pukul 6.25 mereka menerima berita dari para pilot pesawat
pemburu, bahwa zona penerjunan telah dapat dipergunakan. Pukul 6.45 pasukan
para mulai diterjunkan di Maguwo.
Seiring
dengan penyerangan terhadap bandar udara Maguwo, pagi hari tanggal 19 Desember
1948, WTM Beel berpidato di radio dan menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi
terikat dengan Persetujuan Renville. Penyerbuan terhadap semua wilayah Republik
di Jawa dan Sumatera, termasuk serangan terhadap Ibukota RI, Yogyakarta, yang
kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II telah dimulai. Belanda
konsisten dengan menamakan agresi militer ini sebagai "Aksi
Polisional".
Penyerangan
terhadap Ibukota Republik, diawali dengan pemboman atas lapangan terbang
Maguwo, di pagi hari. Pukul 05.45 lapangan terbang Maguwo dihujani bom dan
tembakan mitraliur oleh 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk. Pertahanan
TNI di Maguwo hanya terdiri dari 150 orang pasukan pertahanan pangkalan udara
dengan persenjataan yang sangat minim, yaitu beberapa senapan dan satu senapan
anti pesawat 12,7.
Senjata
berat sedang dalam keadaan rusak. Pertahanan pangkalan hanya diperkuat dengan
satu kompi TNI bersenjata lengkap. Pukul 06.45, 15 pesawat Dakota menerjunkan
pasukan KST Belanda di atas Maguwo. Pertempuran merebut Maguwo hanya
berlangsung sekitar 25 menit. Pukul 7.10 bandara Maguwo telah jatuh ke tangan
pasukan Kapten Eekhout. Di pihak Republik tercatat 128 tentara tewas, sedangkan
di pihak penyerang, tak satu pun jatuh korban.
Sekitar
pukul 9.00, seluruh 432 anggota pasukan KST telah mendarat di Maguwo, dan pukul
11.00, seluruh kekuatan Grup Tempur M sebanyak 2.600 orang –termasuk dua
batalyon, 1.900 orang, dari Brigade T- beserta persenjataan beratnya di bawah
pimpinan Kolonel D.R.A. van Langen telah terkumpul di Maguwo dan mulai bergerak
ke Yogyakarta.
Serangan
terhadap kota Yogyakarta juga dimulai dengan pemboman serta menerjunkan pasukan
payung di kota. Di daerah-daerah lain di Jawa antara lain di Jawa Timur,
dilaporkan bahwa penyerangan bahkan telah dilakukan sejak tanggal 18 Desember
malam hari. Segera setelah mendengar berita bahwa tentara Belanda telah
memulai serangannya, Panglima Besar Soedirman mengeluarkan perintah kilat yang
dibacakan di radio tanggal 19 Desember 1948 pukul 08.00. Ibu kota Yogyakarta
jatuh dengan mudah. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan
beberapa menteri ditawan dan diasingkan Belanda. Sebelum tertangkap, Presiden
dan Wakil Presiden mengirimkan kawat kepada Mr. Syarifuddin Prawiranegara yang
sedang berada di Sumatera.
Kawat
tersebut berisi perintah untuk membentuk sebuah pemerintahan darurat apabila
Presiden dan Wakil Presiden tertawan musuh. Panglima Besar Jenderal Soedirman
mengeluarkan Perintah Kilat yang segera disebarkan kepada seluruh personel TNI
untuk melakukan gerilya. Karena adanya Perintah Kilat ini, maka setiap tanggal
19 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri atau Hari Juang Kartika TNI
AD.
Pada masa
agresi militer Belanda I dan II, telah muncul perjuangan di kalangan pemuda dan
bentuk mobilasi tenaga pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam
kesatuan-kesatuan perjuangan seperti Mobpel (mobilasi pelajar), TRIP (tentara
Republik Indonesia Pelajar), TP (Tentara Pelajar), dan TGP (tentara Genie
Pelajar) yang kemudian seluruhnya tergabung dalam Brigade 17.
Komentar
Posting Komentar